Rekam Jejak

Orang bilang usia 20 tahun itu seperti berada di puncak roller coaster yang siap menghempaskanmu ke bawah. Benar, ketika berada di atas maka kau bisa melihat apapun. Mungkin kau rela untuk diam sejenak di atas sana hanya untuk memejamkan mata, menikmati semilir angin yang menerpa lembut wajahmu. Membayangkan betapa nikmatnya sensasi yang akan kau dapatkan. Tetapi, itu hanya untuk sejenak. Ketika kau membuka matamu, inilah yang akan kau hadapi. Seperti perumpaan di atas, ketika memasuki usia 20 tahun makan hidupmu gak akan lempeng-lempeng saja. Mulai banyak permasalahan yang datang, sekedar menguji seberapa tahan kau menghadapi dan menyelesaikannya.

Jika ditanya, apakah aku yang dulu dan sekarang itu sama, maka jawabannya adalah BIG NO! why? selain dari segi fisik, mental dan pemikiran juga berkembang. Aku belajar banyak hal, dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku yang dulu, begitu takut untuk bersosialisasi. Rasanya bertemu orang, ngobrol, atau hanya sekedar berbasa-basi adalah hal tersulit. Meski sekarang akupun masih terus belajar, setidaknya aku sudah naik level. Entah mengapa dahulu bertemu, ah tidak, bahkan bertatap muka dengan orang lain itu menakutkan. Aku tidak tau cara memulai pembicaraan, menentukan topik pembicaraan, bahkan berdiskusi. Dulu yang aku lebih suka untuk berdiam diri di kamar, melakukan apa yang aku suka seperti membaca buku, mantengin laptop, selalu begitu setiap hari. Meminimalisir untuk tidak melakukan kontak dengan orang lain. Terus begitu hingga aku SMA. Saat SMA, aku tinggal jauh dari orang tua. Mengajarkan aku untuk bergantung pada diriku sendiri. 

Kehidupan SMA ku pun sebenarnya bisa dikatakan biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial. Disaat orang lain sibuk untuk membuat pertemanan, aku masih setia untuk membatasi diri. Bahkan jika ditengok ke belakang lagi, dulu aku telah membuat kesalahan. Aku memaksakan diri untuk mengambil sebuah risiko yang aku sendiri tidak tahu sanggup atau tidak untuk menyelesaikannya hingga akhir. Rasanya aku begitu tertekan, tapi aku ga tahu harus lari kemana. Aku hanya mengikuti alur. Hingga pada akhir masa putih abu-abu ku, aku masih belum bisa menjadi aku yang baru. Aku yang bersemangat untuk menyambut hari esok dengan perasaan yang menggebu-gebu.

Lagi-lagi aku mengambil resiko besar dalam hidupku, aku keluar dari zona nyamanku. Menantang diriku sendiri untuk menyelesaikan apa yang telah aku putuskan hingga akhir. Di titik ini, mataku terbuka lebar. Bahwa hidup itu tidak hanya hitam dan putih, tetapi ada banyak warna. Begitu besar dunia ini, dan semakin aku mendongak, semakin aku terasa kecil. Banyak hal yang aku lewatkan dengan hanya diam di zona nyamanku. 

Di usiaku yang 20 tahun ini, aku ingin menjadi diriku sendiri, yang selalu berjuang untuk meraih apa yang aku inginkan, memerangi rasa malas dan ignorance dari diriku. Meski susah, aku percaya aku bisa menghadapinya. Aku akan terus belajar, membuka diri dan membuat banyak teman. Perlahan namun pasti. 

Untuk aku yang masih bimbang akan dibawa kemana diriku, di usia yang ke 20 ini, yang kata orang fase remaja menuju kedewasaan. Inilah saat yang tepat untuk memulai mimpimu. Temukan apa yang ingin kamu lakukan, take risk, dan bersosialisasilah. Jika gagal, tak apa, mulailah lagi, tak ada yang sempurna, practice makes perfect. Jangan sia-siakan masa mudamu, jika kau tidak mau menyesal di usia tuamu nanti. Selalu berpikiran maju dan terbuka, dan yang paling penting berbahagialah selalu. Kusadari betapa inilah saatnya untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Tak ada salahnya untuk memberikan apresiasi untuk membayar letihmu. Biarlah mulai hari ini, di sini kujadikan saksi untuk memulai merekam jejakku di masa depan, ah tidak. Maksudku mulai besok dan seterusnya! Belajar untuk konsisten, memulai untuk mengakhiri.



Hidup sekali, buatlah berarti.




Teruntuk diriku yang masih bimbang,
Salam hangat,


Bella

Comments